| Author |
Message |
simba |
|
Post subject: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 05:56
|
|
onProfessional

Joined: 09-12-2005 13:10
Posts: 827
Status: Offline
|
|
Sebenarnya ini masalah umum org2 teknik. Gak cuman programmer aja. Lulusan atau org yg (merasa) memiliki kemampuan di bidang teknik (komputer, elektro, sipil, dlsb) merasa mampu untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Umumnya, hal ini didasari asumsi "aku yg paling banyak tau dan paling banyak kerja, knp harus membayar mahal org lain (yg non teknik)?". Kebanyakan org teknik akan merasa iri jika ada org non teknik (marketting misalnya) mendapatkan bayaran atau fasilitas yg sama atau lebih dari yg mereka dapat. Biasanya, org teknik tsb akan berkomentar "enak ya dia, gak perlu skill khusus, cuman modal nyocot dibayar mahal, gue juga bisa!". Atau jika org teknik tsb tau bayarannya gak "sesuai" dgn nilai proyek, biasanya juga gak terima, iri, atau setidaknya menggerutu "enak aja, gue yg banting tulang, eh cuman dpt segini!". Betul?
Dari hal di atas, org teknik -selanjutnya saya batasi programmer aja- kemudian merasa bisa untuk berbisnis sendiri dgn harapan cukup bermodal skill yg dimilikinya dia akan meraup penghasilan lebih banyak. Jadilah dia merangkap pekerja, marketting, legal, support, dan owner sekaligus. Kadang sekaligus jadi office boy. Biasanya, dari sinilah kemudian terjadi kesemrawutan, baik di sisi perusahaan milik programmer itu maupun di sisi project management-nya. Banyak hal, yg project gak on-time dan on-budget, yg keuangannya kacau, yg support (after sale) jelek, dipermainkan client (krn AKS), dlsb, yg pada dasarnya muncul krn project atau perusahaan tidak di-manage oleh org yg punya kemampuan untuk itu.
Betul, memang ada programmer yg (akhirnya?) mampu membangun perusahaan dan bisnisnya dgn baik dan maju. Tapi itu gak banyak. Hanya programmer yg kebetulan juga memiliki kemampuan manajemen, yg biasanya sukses. Kebanyakan, gagal. Biasanya, kalo udah mengalami kegagalan, baru programmer sadar bahwa bisnis gak hanya membutuhkan kemampuan teknik. Menjalankan perusahaan dan menyelesaikan project dgn baik juga butuh kemampuan non teknik, yg sebelumnya diremehkan programmer. Kalo udah "sadar", programmer biasanya akan kembali sbg pekerja di perusahaan org lain, atau membenahi manajemen perusahaannya.
Sebenarnya kegagalan dan keruwetan itu gak perlu terjadi seandainya dari awal programmer sudah sadar (tidak sombong atas kemampuannya) bahwa dia gak bisa bekerja sendirian. Ya, kebanyakan org teknik memang sombong dan cenderung merasa lebih pintar dari org2 non teknik. Ini juga akibat pola pendidikan di Indonesia yg menganggap org yg jago ilmu pasti (matematika, fisika, kimia, dlsb) itu lebih cerdas dari org yg jago ilmu sosial. Padahal, perlu tim yg lengkap dan saling melengkapi supaya bisa sukses berbisnis. Kalo tim itu hanya berisi org2 teknik saja, ya sama aja bo'ong. Ini yg dimaksud deLogic bekerja sbg tim. Tim ini harus berisi org2 teknik sekaligus org2 non-teknik yg bisa saling menghargai kemampuan masing2, gak saling sombong dan meremehkan. Jadi manager itu gak mudah, makanya bayarannya mahal, walaupun dalam hal coding biasanya manager itu gak pinter2 amat.
Kesombongan programmer ini pula (salah satu) yg mengakibatkan IT terkesan jadi mahal, krn programmer merasa perlu dibayar lebih atas kemampuannya. Krn merasa lebih pintar, programmer "seharusnya" lebih kaya dari profesi lainnya. Padahal, seperti dibilang DE, tukang parkir aja bisa lebih kaya dari programmer. IT, berikut produk dan bisnisnya, jika di-manage dgn tepat, bisa murah. Tentu tanpa merugikan pekerja IT itu sendiri. Jika anggapan bahwa IT itu mahal tetap dipertahankan, maka dalam jangka panjang justru akan merugikan kita sendiri, para pekerja IT. Solusi IT yg murah, tidak membebani client, namun tetap menguntungkan pekerja (dan perusahaan) IT, sangat bisa diwujudkan. Gak perlu ada semacam proyek pembuatan aplikasi POS atau website aja seharga ratusan juta rupiah (sounds familiar, eh?). Uniknya, kesombongan ini juga dijawab oleh pekerja IT juga, dgn konsep free software. Liat aja tuh Google, semuanya digratisin aja, masih bisa kaya. Sayang, di Indonesia, pola bisnis seperti Google belum banyak yg menerapkan krn pola pikir dan paradigma pekerja IT dan masyarakat Indonesia sendiri yg masih belum siap.
Tapi bukan berarti gak bisa loh. Gak perlu sampe bener2 gratis deh, murah dulu aja. Seberapa murah? Gimana kalo cukup dalam orde jutaan rupiah dulu. Ada yg berani memulai? Saya? Saya bisa ngomong seperti ini, krn saya pernah memiliki pengalaman seperti itu, termasuk sombongnya juga. Tapi sekarang udah sadar kok. Saya punya aplikasi yg cukup besar dan rumit, saya cukup menjualnya (lewat perusahaan saya) seharga lima juta rupiah saja, per tahun per client, customizable dan full support (bahkan ada call center-nya). Banyak client saya yg heran dan nanya "gak keliru harga nih mas? soalnya produk seperti ini biasanya minta ratusan juta". Dgn harga segitu aja, perusahaan saya bisa "hidup" dgn sangat layak kok, knp harus mahal? Dan ternyata, setelah produk jadi dan bisnis jalan, ujung tombak suksesnya perusahaan ada di marketting dan manajemen, bukan di programmer. Sorry, no offense.  |
_________________ .
|
| |
|
|
|
 |
bagussb |
|
Post subject: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 08:08
|
|
onSkilled

Joined: 02-08-2007 15:28
Posts: 107
Status: Offline
|
|
kalo pengalaman saya.. tentunya awal proyek itu harus membuat draft kontrak yang jelas..
sehingga batasan pengerjaan programnya ada.. jadi tidak sebatas 'AKS' saja... dan
kalo ada penambahan atau pengurangan kerja tentunya ngaruh juga kepada fee kita..
hanya saja memang untuk penentuan harga itu yang susah.. apalagi kalau kita bekerja sendiri dan tidak
bergabung dalam satu perusahaan.. jadinya harus milih2 harga yang pas dengan kemampuan klien juga..
kalo prinsip saya... gimana caranya seorang klient senang dengan hasil kerja kita.. tapi selain senang
dia juga bisa jadi marketing kita.. ... yah... dengan berita mouth-to-mouth juga sudah bisa sedikit
mengembangkan bisnis kita.... |
_________________ spider boy on action ...
|
| |
|
|
|
 |
alvonz |
|
Post subject: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 09:18
|
|
onKnowledgeable

Joined: 24-09-2007 11:01
Posts: 187
Status: Offline
|
|
nah mumpung di bahas nih.... ada yang tau gak standard cara menentukan harga jual sebuah software gak sih...
itu yang menjadi dilema juga untuk para programmer...
untuk pembuatan software A kita jual ke toko XY 3000000 kemudian kita jual ke toko YZ 4500000 karena perusahaan nya besar
pas toko YZ tau jual murah ke toko XY sirik, alesannya bingung
nah kali aja ada standard cara pejualan program delphi.... heheheheh  |
|
|
| |
|
|
|
 |
|
|
Post subject: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 21:45
|
|
onUber-Skilled

Joined: 30-10-2006 13:27
Posts: 417
|
|
|
alvonz wrote:
nah mumpung di bahas nih.... ada yang tau gak standard cara menentukan harga jual sebuah software gak sih...
itu yang menjadi dilema juga untuk para programmer...
untuk pembuatan software A kita jual ke toko XY 3000000 kemudian kita jual ke toko YZ 4500000 karena perusahaan nya besar
pas toko YZ tau jual murah ke toko XY sirik, alesannya bingung
nah kali aja ada standard cara pejualan program delphi.... heheheheh
nah, studi kasus mulai muncul nih..
hmm, soal harga jual memang slalu menjadi kontroversi dalam penentuan sebuah produk jasa. memang ga isa dipungkiri kl ternyata hasilnya seperti kasus diatas (sayapun pernah mengalami hal sama), dan solusi waktu itu adalah dengan memberikan layanan yang lebih (krn membayar lebih mahal). misal saja: layanan dalam bentuk fasilitas tentor, atau garansi dalam jangka lama. Yang penting pihak klien tidak merasa di rugikan dan pihak kita juga tidak terbebani dengan penambahan item2 yg ujung2nya "AKS" lagi.
mungkin ada tips-tips dari rekan-rekan..MONGGO MAS !!
Menyikapi dari kasus diatas, apabila dilihat secara macro memang perlu adanya "Asosiasi Pengembangan Software Indonesia", entah harus dimulai dari segi financial HPP (Harga Pokok Penjualan) atau HPPHC (Harga Pokok Penjualan Hak Cipta).
Ilustrasi saya, konsep yang pertama : dengan adanya HPP, otomatis standarisasi selisih harga tidak terpaut jauh. konsep yang kedua : dengan adanya HPPHC, selaku produsen utama dalam software akan mendapatkan loyalitas dalam kerja kerasnya, lalu apa keuntungan bagi produsen pengembang... bisa anda bayangkan sendiri khan !!  |
_________________ http://eksa.wordpress.com
|
| |
|
|
|
 |
|
|
Post subject: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 21:57
|
|
onUber-Skilled

Joined: 30-10-2006 13:27
Posts: 417
|
|
|
|
|
 |
simba |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 05-09-2008 22:32
|
|
onProfessional

Joined: 09-12-2005 13:10
Posts: 827
Status: Offline
|
|
Dgn adanya dan semakin memasyarakatnya produk2 free software, menurut saya standarisasi harga software udah gak relevan lagi. Udah jelas, harga termurah adalah gratis. Itulah uniknya, bisa jadi kekurangan sekaligus kelebihan, bisnis di bidang IT khususnya software. Bahkan dgn harga jual nol (alias gratis), si penjual tetep bisa dapat untung, bahkan kaya! Asik kan?
Bisnis software merupakan gabungan dari bisnis jasa dan bisnis barang. Kita semua tau, dalam bisnis jasa, customer service adalah prioritas pertama. Sedang dalam bisnis barang, product quality adalah prioritas pertama. Harga bisa jadi prioritas selanjutnya. Dalam bisnis jasa, pengguna gak akan keberatan membayar (lebih) mahal jika customer service-nya bagus. Demikian juga dalam bisnis barang, pengguna gak akan keberatan membayar (lebih) mahal jika product quality-nya bagus.
Nah, dalam bisnis software, customer service dan product quality sama2 berada dalam prioritas pertama, idealnya. Ini krn bisnis bisnis software memiliki produk yg serupa barang tapi gak punya bentuk fisik. Disitulah kemudian ada demand terhadap customer service sekaligus product quality. Jika ada salah satu yg lebih diunggulkan dan yg lain kurang diunggulkan, maka penjual akan bermain di harga.
Yg bikin rusak pasaran bisnis software adalah para pebisnis software yg justru kurang memperhatikan customer service dan product quality, tapi menuntut harga yg mahal. Dgn alasan, IT itu mahal, SDM IT itu mahal, bikin software itu sulit, dlsb. Padahal, sebenarnya semua keahlian sama2 mahalnya dan sama2 berharganya. Mencari programmer yg canggih sama sulitnya dgn mencari marketter yg lihai. Pelaku2 bisnis software seperti inilah yg seharusnya intropeksi diri (kalo perlu ditindak) supaya gak mematikan pasar para pebisnis software lainnya. Sebab, dalam bisnis apapun, baik jasa maupun barang, pengguna (pasar/market) tetap jadi raja yg menentukan sukses tidaknya bisnis tsb. Daripada merusak pasar, lebih baik mereka gak usah berbisnis, cukup jadi karyawan saja atau pindah pekerjaan. Kalo masih tetep mau bisnis, maka berubahlah jadi pebisnis software yg baik.  |
_________________ .
|
| |
|
|
|
 |
madi |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 06-09-2008 12:03
|
|
onUber-Skilled

Joined: 30-12-2005 07:58
Posts: 286
Status: Offline
|
|
|
Quote:
Daripada merusak pasar, lebih baik mereka gak usah berbisnis, cukup jadi karyawan saja atau pindah pekerjaan. Razz Kalo masih tetep mau bisnis, maka berubahlah jadi pebisnis software yg baik. Smile
SETUJUUUUUUUUUUU...................... |
_________________ "MAN BEHIND THE GUN"
Hidup ini sudah terlalu banyak masalah, Tambah satu masalah tidak jadi masalah.
Hidup ini simple, jgn dijadikan complex.
|
| |
|
|
|
 |
|
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 06-09-2008 14:55
|
|
onKnowledgeable

Joined: 17-05-2007 02:07
Posts: 207
|
|
Gitu yah, tapi kalo memang begitu, aturan program itu bisa murah kadang di tinjau juga dari proses produksinya mungkin, ndak terfokus atau memihak salah satu vendor, ambil contoh perusahan Mikucluk dengan winblows nya. Mikucluk menjual software operating systemnya dengan harga yang reliabel, dan dapat di jangkau oleh pengguna umum.
bila di pandang dari sisi bisnis, mungkin saya lebih setuju bila tingkat kemahalan atau murahnya sebuah program dilihat dari proses produksi program itu sendiri. asumsinya apabila sebuah produk di produksi dengan proses mass production, maka harganya pasti akan menjadi murah. ibarat jual kacang goreng... tapi kalo program itu di buat untuk spesifik dengan kasus yang spesifik pula, ndak ada aturan yang menentukan mahal murahnya program tersebut kecuali proses produksinya, dan kegunaan dari program itu sendiri.
sedikit curhat aja, daku pernah membuat sistem penjualan .. dulunya cuma point of sales. seiring keinginan si user di upgrade sampai dengan laporan keuangan integrated. bandingkan dengan program jaman sekarang, cari program inventory yang linked dengan accounting sistem banyaknya minta ampun, dan harganya pun ancur ancuran.... apa mo di kata ?
yup buat programer, tetep semangat lah berkreasi, percaya! teknologi ga terbatas sampai hari ini saja, pasti ada invoasi dan invensi baru yang akan selalu muncul, di situlah keunggulan orang orang "Teknis" btw pada pwasa ga neh.. aku dah batall...  |
_________________ -|[ H-412-RY]|-
|
| |
|
|
|
 |
madi |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 06-09-2008 15:55
|
|
onUber-Skilled

Joined: 30-12-2005 07:58
Posts: 286
Status: Offline
|
|
hahaha...
Mahal mungkin bisa ditentukan dengan fitur dari program itu sendiri, ataupun seberapa banyak "saingan" yang berfitur sama atau mirip. Nah disinilah letak seorang Programmer (jika merangkap manager, sales dll) bermain... layak tidak dia menjual harga yg dia inginkan, ini sisi lain yang kebanyakan para programmer tidak punyai..wakakaka...Selamat Berjuang !!! |
_________________ "MAN BEHIND THE GUN"
Hidup ini sudah terlalu banyak masalah, Tambah satu masalah tidak jadi masalah.
Hidup ini simple, jgn dijadikan complex.
|
| |
|
|
|
 |
simba |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 07-09-2008 02:09
|
|
onProfessional

Joined: 09-12-2005 13:10
Posts: 827
Status: Offline
|
|
@betamax:
Emang ada ya, proses produksi massal di bidang software development? Soalnya software itu bukan benda fisik seperti kacang goreng yg kalo bikinnya banyak bisa lebih murah. Perasaan effort bikin software untuk satu orang atau seribu org, sulitnya sama aja. Begitu selesai satu, sisanya kan tinggal copy paste. CMIIW.
Mungkin yg Anda maksud, software yg ditargetkan untuk pangsa yg besar atau pangsa yg khusus (sedikit). Tapi itu pun juga gak sepenuhnya benar. Buktinya ada software2 untuk pangsa khusus yg tersedia gratis. Intinya, selama ada software sejenis yg gratis atau murah, produsen software lain harus punya alasan yg bagus dan kuat untuk menjual software serupa dgn harga yg lebih mahal.
Masa' ada org jual CMS yg fiturnya sama seperti Jomla (gratis), tapi minta harga puluhan juta. Setelah dilihat isinya, ternyata cuman modifikasi (baca: ganti tampilan) dari Jomla itu sendiri. Masih mending kalo support dan after sale-nya bagus, lah ini jelek banget. Menurutku, daripada begitu, mending gak usah jualan software. Lebih baik buka kursusan atau pelatihan cara menggunakan dan memodifikasi Jomla. Bener ini, serius.  |
_________________ .
|
| |
|
|
|
 |
alvonz |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 07-09-2008 10:07
|
|
onKnowledgeable

Joined: 24-09-2007 11:01
Posts: 187
Status: Offline
|
|
wah jadi rame juga nih opini... jadi kesimpulan yang saya dapet dari atas kayanya gak bisa men-standarisasikan harga jual software nihh.... |
|
|
| |
|
|
|
 |
R-One |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 07-09-2008 11:42
|
|
onSkilled
Joined: 30-06-2006 00:05
Posts: 74
Status: Offline
|
|
thanks, sharing ni.
kalau saya sih, caranya lihat customer kira2 bisa repeat order nggak artinya yg kemungkinan dia memiliki beberapa cabang.
kalau misalnya itu perusahaan baru coba kenal dengan direktur-nya, lihat planning mereka itu bagaimana, apakah software kita bisa di-repeat order,
ambil saja dengan tetap 'AKS'.. is okelahhh.. (tentu saja biaya2 harus diperhitungkan.. jangan mahal2 lah)
kl ada sistem support ya, minta saja bayaran kl nggak ada ya jgn minta.
sejauh ini saya masih jalani sendiri... (syukurnya pendapatan masih diatas tkg parkir yg disebut2...hahahha )
itu aja sih, sharing dr saya.. |
|
|
| |
|
|
|
 |
|
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 08-09-2008 09:52
|
|
onElite

Joined: 06-02-2006 17:06
Posts: 1832
|
|
Konsumen Tanah Abang rata2 100.000 (kata TV) orang per hari...
Jika rata2 mereka datang berombongan ber-empat, artinya ada 25.000 kendaraan yg harus diparkir...
Jika 1 kendaraan dikenai Rp.1000 aja,
maka sehari tukang parkir Tanah Abang mampu mengantongi 25.000xRp.1000 = Rp. 25.000.000
pendapatan sebulan = 25.000.000x30 = 750.000.000
Itu kalo serebuan... lha kalo tarif berdasar waktu? yg rata2 paling-ngga' Rp.2000?
Kebetulan... yg pegang proyek parkiran Tanah Abang masih saudara sendiri... tinggal tidur - melek - pipis - makan - minum ini Fakta! |
_________________
http://delphiexpert.wordpress.com
|
| |
|
|
|
 |
coolmib |
|
Post subject: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 08-09-2008 15:02
|
|
onSkilled
Joined: 14-01-2006 10:25
Posts: 88
Status: Offline
|
|
Kesimpulannya... Bro DE mo pindah Profesi?? kekekeke....
Kadang faktor "Luck" lbh berperan sih. Contohnya ada yg ilmu
programmingnya pas-pasan, tapi karena bisa menyakinkan sebuah
perusahaan gede u/ pake program "kacangan"nya (Koneksi etc).
Jadi makmurlah dia dgn maintenance yg "Wah" juga.
Ini salah satu kenyataan yg saya lihat sendiri waktu masih di Batam. |
|
|
| |
|
|
|
 |
|
|
Post subject: Re: RE: Re: RE: Dilema Programmer
Posted: 08-09-2008 15:04
|
|
onUber-Skilled

Joined: 30-10-2006 13:27
Posts: 417
|
|
|
DelphiExpert wrote:
Konsumen Tanah Abang rata2 100.000 (kata TV) orang per hari...
Jika rata2 mereka datang berombongan ber-empat, artinya ada 25.000 kendaraan yg harus diparkir...
Jika 1 kendaraan dikenai Rp.1000 aja,
maka sehari tukang parkir Tanah Abang mampu mengantongi 25.000xRp.1000 = Rp. 25.000.000
pendapatan sebulan = 25.000.000x30 = 750.000.000
Itu kalo serebuan... lha kalo tarif berdasar waktu? yg rata2 paling-ngga' Rp.2000?
Kebetulan... yg pegang proyek parkiran Tanah Abang masih saudara sendiri... tinggal tidur - melek - pipis - makan - minum  ini Fakta!
wakakaka... fakta dari mana tuh, gaji tukang parkir yang melebihi gaji presiden (http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/11/30/brk,20051130-69922,id.html), sudahlah..bicara yang realistis aja dech  |
_________________ http://eksa.wordpress.com
|
| |
|
|
|
 |
|
|
|